Sebelum Lulus

Juni — Juli, 2 tahun telah kuhabiskan masa muda SMA selayaknya anak SMA pada umumnya. Hal-hal konyol selama masa SMA, drama yang bikin capek, melihat teman pacaran, mabar hingga teriak-teriak. Sekarang, aku sudah naik kelas untungnya. Ya, gimik guru bahwa ada yang gak naik kelas rasanya sudah tidak mempan--sudah basi. Kita semua sudah naik kelas, toh. Tapi, itu pasti akan berlalu setelah kita lulus, kan?
Pasti tidak akan kita selalu kontakan. Game yang biasanya kita selalu mabar hingga bosan, namun karena cuma itu yang bisa kita mainkan pun, mungkin tak selalu kita bisa sering mabar. Kumpul-kumpul untuk nobar film horor hanya untuk lihat reaksi takut kalian pun, mungkin aku tak bisa lihat itu lagi selamanya. Bahkan setelah naik kelas, dan kalau gak sekelas lagi, kita mungkin akan punya kehidupan masing-masing, hanya lewat begitu saja atau hanya menyapa, namun, itu tidak masalah, karena aku sudah terbiasa dengan itu sejak SMP, SMA. Seperti kata orang yang sekarang sudah jadi klimaks kata tersebut, people come and go.
Apalagi setelah lulus SMA, pasti kehidupan akan berubah banget tidak seperti SD dan SMP, aku masih bisa merasakan kehidupan bersekolah. Waktu lulus SMA adalah waktu yang tidak sama saat kita masih pelajar, masih polos, masih memberontak, masih dihidupin, masih mengikuti arahan guru atau orang tua, waktu lulus SMA yang aku dengar dari kebanyakan orang adalah waktu kita menghadapi dunia luar yang keras dan luas. Setelah bertumbuh dan lama-lama mengetahui ini, aku mulai melamun dan terus melamun untuk mencari jati diri. Mungkin bisa disebut Quartel Life Crisis, ya, dan aku memang harus menentukan jati diriku untuk menghilangkan keresahanku.
Komentar
Posting Komentar