Pohon Mati

Di tengah-tengah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan segar di sekitaran lapangan sekolah, seorang anak baru saja keluar dari kelasnya. Sudah jam istirahat. Perutnya sudah kenyang dan ia tidak haus lagi. Berada di ketinggian yang tidak terlalu tinggi dari lantai 2, namun angin tetap meniup dengan kencang ke arahnya. Angin tidak dilihatnya, hingga ia harus menutup mata karena tidak diperlukan, yang ia perlukan adalah merasakan sejuknya dan hawa suhu yang lumayan dingin ke badannya. Kelasnya terasa lembap, angin itu membuat dia merasakan rasa syukur dan kelegaan. 

 

Anak tersebut mulai turun ke lapangan. Lapangan dibagi menjadi dua lapangan basket dan lapangan voli. Beruntung! Orang-orang hanya bermain basket dan untungnya lagi hanya di setengah lapangan untuk melatih shoot. Anak tersebut berdiri di tengah-tengah antara dua lapangan, ia menatap langit. langit biru yang agak mencekung. Dipikirnya lagi pelajaran saat sekolah, bentuk bumi. Dari zaman dahulu, banyak peradaban mengira bentuk bumi. Ada yang menganggap bumi itu bulat seperti yang kita yakini seperti dahulu, ada yang menganggap kotak, datar dengan ujung terbatas yang selalu dicari oleh orang zaman dahulu, dan bentuk aneh seperti, trapesium, segitiga, dan lain-lain. Tapi, langit yang ia lihat mencekung. Sudah pasti bulat! Toh, ada orang yang ke luar angkasa. Astronot tersebut foto dari bulan, selain itu, Carl Sagan juga pernah menunjukkan foto bumi yang bulat menjadi titik kecil biru dengan satelitnya jauh sekali (hampir tak terlihat jika tidak ditunjukkan dengan panah merah). 

 

"Bentuk bulat kecil yang hampir tidak ku temukkan adalah planet kita?"  

 

Panas teriknya matahari membuat dia ingin berteduh walaupun angin tetap meniup kencang dengan hawanya dingin yang dibawanya. Berteduh di sebuah pohon dengan daun hijau dan ranting berkelebat merupakan tempat yang cocok. Dicari lah pohon yang akan dipilih, namun, ia melihat sebuah pohon yang menarik. Pohon tersebut tidak tumbuh dengan batangnya yang kuat, kokoh, dan tegak. Bukan dengan ranting dan daun hijaunya berkelebat. Bukan dengan buah-buah yang jatuh. Tetapi dengan gugurnya pohon itu sendiri dari banyaknya tumbuhan segar dan sehat berkeliaran di sekitar pohon. Ada apa dengan pohon tersebut? Bagaimana bisa hanya pohon itu yang mati? Ia pun akhirnya berteduh di pohon tersebut. Entah dengan alasan dia memilih pohon tersebut. Dia duduk dan kembali mengamati langit lagi ditambah berbagai pohon kecil dan lebat di depannya. "Pohon itu memiliki sedikit daun di tengah matahari dari yang cukup. Bahkan, air dalam tanah pasti sudah cukup. tumbuhan sekitar masih sehat. Mengapa pohon itu telah mati?" Mungkin ia harus menyadari sesuatu seberusaha apa pun pohon itu mendapat kelayakan hidup yang memperpanjangnya, akan ada kematian entah dari parasit atau sistem dalam tubuh pohon yang sudah tidak mampu lagi.

 

Pohon itu akan mati dan ia ingin tau apa yang terjadi setelah kematian pohon. Tidak ada yang tau apa yang terjadi setelah kematian dalam padangan orang mati, hanya padangan orang hidup dan ilmu pengetahuan juga. Pohon itu akan tumbang pastinya. Kutu dan serangga pengerat lainnya pasti akan berpesta dengan meriah merayakan kematian sang pohon yang sama artinya keajaiban dari langit untuk memberikan serangga tersebut makanan. Serangga akan buang air ke dalam tanah dan tanah akan mendapatkan zat haranya yang berguna untuk menumbuhkan pohon. Sungguh unik siklus kehidupan pohon. Ia berpikir bagaimana siklus kehidupan manusia? Setiap orang memiliki siklus kehidupannya juga masing-masing. Jadi kematian itu... dan kehidupan abadi perlu? Apa yang terjadi bila pohon hidup abadi? Kring kring, astaga! Ia harus memasukki sekolah. "Menyebalkan."   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Sosial

Tidur

Toilet yang Nyaman